Berbagi Nasi (Bernas) Mengadakan Berbagi Sahur Berjuang Tak Pernah Seasik Ini

 05-06-2018 18:40 WIB by Admin  26x    News
Sekitar pukul 02.30 WIB pada Minggu (27/5), penulis tiba di depan ruko di Jalan Jend. Ahmad Yani. Sekitar sepuluh orang pejuang/anggota komunitas Bernas sudah berkumpul di teras salah satu blok ruko. Mereka mengecek bungkusan-bungkusan nasi yang akan dibagikan. Ada yang nasinya dibungkus dengan kertas minyak, mika ataupun kardus. Semuanya berjumlah sekitar 140 nasi bungkus dan dibagi ke beberapa plastik besar. Ada juga sekitar dua kardus air mineral dan seplastik besar susu kedelai yang masih panas.
 
Setelah pengecekan dirasa cukup, anggota Bernas membentuk lingkaran dan memulai briefing. “Rute seperti biasa kan ya?,” kata salah satu anggota Bernas. Briefing ditutup dengan doa bersama. Beberapa nasi yang sudah dibagi ke beberapa plastik dibawa oleh beberapa anggota, termasuk penulis, dan siap keliling dengan naik motor. 
 
Kami memulai perjalanan kami ke Jalan Mangga dan langsung ke utara menuju jalan Raya Tuban-Semarang, ke arah alun-alun. Satu anggota terlihat berhenti sejenak untuk membagikan satu paket nasi dan minuman ke tukang becak. Sedangkan kami melanjutkan perjalanan terus ke timur ke jalan Jend. Sudirman. Beberapa dari kami berhenti di depan Kliwon, termasuk saya. Prosesnya memang berlangsung sangat cepat. Motor berhenti di depan para tukang becak yang sedang terlelap, dan saya bagunkan ia pelan-pelan. Sembari menyodorkan bungkusan nasi dan minuman dan menjelaskan bahwa ini makanan sahur mereka. Sesungging senyum terukir dari wajah mereka. “Terima kasih ya,” ujarnya lemah. Dari dua kata tersebut bisa tergambar kelegaan dan kebahagiaan yang dirasakannya.
 
Perjalanan dilanjutkan sampai ke Pentol yang terdapat beberapa becak berhenti di depan dealer. Dan perjalananan kami lanjutkan ke jalan HOS Cokroaminoto, hingga sampai di Alun-Alun. Dari Alun-Alun, kami jalan terus hingga sampai di ruko depan Hypermart. Kami masuk ke ruko yang langsung tembus ke terminal Getas. Ada beberapa tukang becak yang beristirahat di depan toko-toko yang masih tutup. Kami kembali ke jalan raya dan menuju ke depan Matahari yang sudah agak ramai. Keramaian terutama berasal dari Pasar Bitingan yang sudah memulai aktivitasnya. Beberapa sopir truck terlihat beristirahat di dalam trucknya saat kami hampiri. Kami semua kembali ke titik awal ketika jatah nasi hanya menyisakan untuk para pejuang yang hadir dini hari itu. 
 
Kami duduk lesehan melingkar dan menikmati sahur, saat itu, jam menunjukkan pukul 03.35. Ketika ditanya awal tercetusnya bagi-bagi sahur, Beken, salah satu anggota Bernas justru memberikan sebuah pertanyaan. “Pernah memikirkan bagaimana orang-orang seperti mereka mendapatkan makanan saat sahur?,” ujarnya. “Lalu melihat antusiasme dan semangat anak-anak juga,” ujarnya. Bernas biasa berbagi sahur dengan para pekerja malam, gelandangan, dan tukang ojek. Ia menyatakan, dari lima tahun yang lalu, sejak awal berdirinya Bernas, mereka sudah melaksanakan bagi-bagi sahur. “Semua orang yang ikut bagi-bagi sahur hari ini sudah dianggap sebagai anggota Bernas,” ujarnya. Minggu kemarin (3/6) pun mereka juga mengadakan bagi-bagi sahur lagi. “Alhamdulillah selama ini nggak ada hambatan apa-apa,” ujar Beken, ketika ditanya adakah hambatan saat mereka berbagi nasi.
 
Ide awal berbagi sahur karena semangat berbagi dari pejuang nasi Kudus yang ingin berbagi di bulan Ramadan di luar jadwal rutin. Jadwal rutin komunitas dengan slogan “Berjuang Tak Pernah Seasik Ini” adalah setiap Jumat malam dan Minggu pagi. Rutenya juga sama seperti rute bagi-bagi sahur. “Kita ada rute tetap (seperti yang kemarin), dan ada rute cadangan. Rute sudah kita tentukan jauh hari sebelumnya dengan cara survey lokasi,” ujar Buang, salah satu anggota Bernas lainnya. Rute cadangan tersebut dibutuhkan ketika nasi hasil donasi melimpah sehingga kita butuh rute lain untuk menghabiskan nasi. Ditanya seberapa kenalkah mereka dengan para tukang becak, Buang memberikan jawaban kalau mereka jadi tahu kebiasaan para tukang becak biasa beristirahat itu dimana.  
 
Nasi yang dibagikan tersebut biasanya didapatkan dari donator, namun, anggota tetap ada iuran rutin. “Iurannya seikhlasnya, dikumpulkan saat akan aksi,” ujar Buang. Jika berlebih, uang iuran biasanya buat beli air minum, Obat-obatan, selimut, atau untuk bantu-bantu acara komunitas lain. “Agenda utama kita berbagi nasi, tapi ada beberapa agenda lain seperti berbagi matras, berbagi selimut, dan berbagi nasi sayang,” ungkap Buang lagi. Mereka pun siap bergerak ketika dibutuhkan seperti untuk penggalangan dana/logistik untuk korban bencana.
 
Berdiri  pada 23 Agustus 2013 lalu, sampai sekarang Bernas memiliki sekitar 50 anggota. “Namun, sekali bergerak ya 10 orang-an lah, ganti-ganti,” ujar Buang. Uniknya, mereka tak punya ketua, hanya ada bendahara dan anggota. Bernas juga tak membatasi siapapun mau masuk keanggotaan mereka. “Silakan jika mau bergabung,” ujar Buang.
 
 
Bagaimana, tertarik untuk bergabung? Atau mungkin berminat untuk memberikan donasi ke komunitas Bernas? Silakan untuk menghubungi Mas Beken di nomor 085741650690