Bahagiakan Anak Yatim, Gabungan Komunitas Adakan KURMA (Kegiatan Buka Bersama di Bulan Ramadhan)

 12-06-2018 10:18 WIB by Admin  74x    News

“Yuk dik, sini,” ujar salah satu panitia memanggil satu anak yang datang. Sang anak akhirnya dengan sedikit malu-malu menghampiri panitia yang sudah siap di depan meja. Setelah sang anak menulis nama di kertas absensi, panitia memakaikan hiasan bintang yang sudah diberi nama sang anak ke kepala. 
 
Setelah itu, panitia dokumentasi siap mengabadikan sang anak yang sudah berpose di depan photobooth. “Senyum ya,” ujar panitia dokumentasi mengarahkan sang anak dengan sabar. Saat sang anak mulai tersenyum, lensa kamera langsung membidik. Selesai dengan sesi foto, sang anak dipersilakan duduk menunggu temannya yang lain. 
 
Begitulah suasana yang tergambar pada acara KURMA yang dilaksanakan pada Minggu (27/5) di Desa Kedungdowo Kaliwungu lalu. Acara tersebut terasa istimewa karena ada 109 anak yatim Desa Kedungdowo, Kaliwungu beserta pendamping yang diundang. Pun istimewa karena diadakan oleh beberapa komunitas sekaligus. Ada Kudus Mengajar, Kresek Kudus, Kudus Bergerak, Yuk Main, Bank Sampah Sekar Melati, Omah Aksi, dan FKK. Para komunitas ini bahu membahu untuk mewujudkan acara KURMA yang sudah diadakan ketiga kalinya. 
 
Digelar di area sekolah yang tak jauh dari balai desa, KURMA kali ini mengambil tema “Keajaiban Ramadhan”. Para komunitas sukses membuat acara untuk para anak yatim dan para pendamping. Hal ini tercermin dari tawa anak-anak yatim yang menggema sepanjang pertunjukkan sulap digelar. Pasalnya tak hanya trik sulap yang membuat kagum, namun juga tingkah pesulap yang jahil dan kocak. Gelak tawa mereka pecah ketika pesulap sukses mengerjai para anak yang dibuat penasaran dengan atraksi berjalan di atas tali. Bukan berjalan di atas tali yang berada satu meter di atas tanah, melainkan hanya tali yang berjarak bahkan tidak ada satu senti di atas tanah. Acara ngabuburit menunggu buka puasa jadi tak terasa berat untuk mereka. 

Sementara, para orang tua yang mendampingi anak yatim punya sesi sendiri. Mereka digiring untuk mengikuti seminar mengenai Parenting, yakni bagaimana cara membimbing anak. Psikolog anak dari UMK dihadirkan untuk menjadi narasumber. Para orang tua juga tampak antusias mmendengarkan seminar mengenai dasar pembelajaran dan pengajaran terhadap anak-anak mereka. 
 
Salah satu anak yatim, Amri (12) mengaku senang dengan acara Kurma tersebut. “Kegiatannya seru, apalagi saat sulap,” ujarnya. Ia mengaku ingin diadakan acara seperti ini lagi. Begitu pula Nur Suriah (50), pendamping salah satu anak yatim. Dirinya merasa terbantu akan adanya acara KURMA. “Ramai sekali acaranya, anak anak juga senang,” tuturnya. 
 
 
Beberapa doorprize juga dibagikan untuk anak yatim dan para orang tua yang antusias mengajukan pertanyaan maupun berpartisipasi. Acara ditutup dengan buka bersama, pemberian santunan dan bingkisan untuk para anak yatim. 
 
Hampir semua biaya maupun doorprize dari donatur. Mulai dari santunan, konsumsi hingga bingkisan tas yang dibagikan. “Panitia sudah mempersiapkan ini sejak tiga bulan yang lalu,” ucap ketua panitia KURMA, Brilian Kurniawan Dewara. 
 
Mengenai penentuan lokasi, Brilian dan kawan-kawan melakukan survei terlebih dahulu. “Kami melakukan survei dengan pertimbangan dan masukan dari rapat,” ungkapnya. Biasanya yang dipertimbangkan dari banyaknya jumlah anak yatimnya, hingga keadaan sekitar. Setelah disurvei dan para panitia setuju, mereka izin ke pihak desa. “Kalo desa deal, kita fix di sana dan tetap koordinasi dengan desa,” ujar Bri. Dalam acara KURMA, Kepala Desa Kedungdowo juga ikut memberikan sambutan dan berbuka bersama anak-anak yatim. 
 
 
“Tujuan yang utamanya ya untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang beruntung, apalagi ini di bulan Ramadan,” lanjutnya. Dari awal, komunitas-komunitas ini memang berkomitmen ingin membuat satu projek bersama-sama. Sehingga, tujuan internal komunitas mengadakan acara ini untuk saling bersilaturrahim sesama komunitas, guyub rukun. “Tapi ya itu, kendalanya kadang terbentur dengan kesibukan para relawan,” ujarnya. 
 
Divisi-divisi panitia juga dibedakan berdasarkan komunitas. Seperti komunitas Yuk Main yang menangani konsumsi, atau komunitas Kudus Mengajar yang berada di divisi acara. Acara ini sudah menjadi even tahunan untuk para komunitas di Kudus yang tergabung dalam FKK (Forum Komunitas Kudus). Ingin mengenal lebih dalam dengan masing-masing komunitas tersebut? Silakan cek di media sosial instagram mereka, dengan mengetik nama dari komunitas tersebut. Setiap komunitas meiliki cara dan bidangnya masing-masing. Berminat untuk berdonasi atau mengenal lebih jauh mengenai FKK? Brilian bisa dihubungi di nomor WhatsApp 085742248508