Komunitas Gebbrag (Gerakan Bersedekah dan Bebas Riba Group) : Berdakwah Lewat Penukaran Uang Tanpa Riba

 14-06-2018 11:38 WIB by Admin  22x    News
Bukan hanya sekedar pesan, namun juga aksi. Begitulah cara komunitas Gebbrag berdakwah mengenai anti riba. Pada Minggu (10/6) kemarin, mereka melaksanakan kegiatan penukaran uang anti riba. Kegiatan ini banyak mengundang perhatian khalayak. Apalagi tulisan "Penukaran Uang Baru Tanpa Riba" terpampang besar di area kegiatan. Hal ini terlihat dari antrian panjang terlihat di kios paling selatan deretan ruko gang empat depan KC. Bank BNI Kudus. Sejak dibuka pada pukul 16.00, lapak Gebbrag tak sepi oleh pengunjung yang mau menukarkan uang.
 
Gebbrag menyediakan sekitar 62,3 juta rupiah untuk penukaran uang kali ini. Pecahan dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan hingga dua puluh ribuan tersedia masing-masing 15 juta rupiah. Founder Gebbrag, Sigit Setiyawan yang ditemui di sela-sela kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan ini untuk berdakwah sekaligus edukasi. "Kita nggak hanya pesan saja, tapi juga memberikan solusi," ujarnya. Ia melanjutkan bahwa masih banyak penukaran uang di pinggir-pinggir jalan yang menambah jumlah nominal uang yang dibayarkan. "Nah kita nggak gitu. Karena hal ini menyangkut masalah keimanan. Kita edukasi dengan cara yang soft," terang Sigit
 
Mekanisme penukaran uang yang sudah berjalan selama dua tahun ini menggunakan kupon. Mereka menyediakan 300 kupon untuk para pengunjung. Setiap pengunjung hanya diberi satu kupon. Penukaran uangpun dibatasi maksimal 200 ribu rupiah. "Ketika kuponnya habis, berarti sudah selesai, mereka nggak boleh ngantri lagi," terangnya. Namun, para pengunjung dibebaskan untuk meminta pecahan berapa, apakah lima ribuan atau yang lainnya.
 
Setelah mereka menukarkan uang, tangan mereka diberi stempel sebagai bukti dan tanda mereka tidak boleh menukar uang lagi. "Ini untuk pemerataan di blakangnya, kasihan kan udah ke sini jauh-jauh malah nggak dapet," ujarnya.
 
Ada sekitar 15 orang yang bertugas di penukaran uang tanpa riba ini. Gebbrag juga bekerjasama dengan Polsek setempat. Sigit menyatakan bahwa setiap kegiatan yang diadakan Gebbrag pasti memberitahu pihak keamanan. "Karena ini menyangkut kepentingan banyak orang sih," ujarnya. Pertimbangan keamanan juga menjadi alasan kenapa penukaran uang hanya dilakukan satu hari saja, selain tentu saja penyediaan uang.
 
Salah satu pengunjung yang menukarkan uang di lapak Gebbrag, Dwi (38) mengaku senang. "Sangat membantu sekali. Kita kan pengennya hidup tanpa riba, dengan cara seperti ini kita bisa meminimalisir riba, soalnya kalo riba kan dua pihak sama sama berdosa," ujarnya panjang lebar.
 
Sebenarnya penukaran uang tanpa riba ini adalah kegiatan penutup Gebbrag di bulan Ramadan kali ini. Sebelumnya, mereka juga telah bagi-bagi nasi bungkus buka puasa untuk penunggu pasien kelas tiga di empat rumah sakit di Kudus. Yakni RSUD, RS. Mardi Rahayu, RSI, dan RS Aisyiyah. Mereka membagikan 100 bungkus nasi selama dua hari sekali dalam waktu sembilan hari. Lalu mereka juga mengadakan bedah rumah dan pemberian motor untuk difabel.
 
Khusus untuk pemberian motor difabel, selama ini sudah ada dua penerima motor. Yang pertama adalah Arif, yang merupakan penerima pertama bantuan Gebbrag. Sholikin sudah lumpuh sejak tahun 2002, namun semangatnya untuk bekerja tidak padam. Setelah ia mendapat bantuan kursi roda pada 2011, ia nekat menjadi loper koran di daerah gang empat dan rela menempuh jarak satu jam dari tempatnya tinggal di Desa Krandon. Ia bertemu dengan Sigit yang saat itu ingin membantu memberinya motor. Setelah konsultasi sana sini sekaligus mencari model motor yang cocok di internet, akhirnya motor Arif terwujud pada 2016. "Ini menjadi bantuan pertama Gebbrag dan cikal bakal lahirnya komunitas ini sampai sekarang," ujarnya bangga. Sampai sekarang, ia masih berjualan dan terus berdakwah dengan Gebbrag. 
 
Tak hanya Arif, penerima motor yang lain adalah Sholikin. Ia adalah warga Undaan yang sudah banyak mengalami patah tulang kaki dari kecil. "Sholikin kan selama ini nggak pernah lewat Alun-Alun Kudus, pas dia bisa lewat sendiri di Alun-Alun, dia menangis terharu," kenang Arif.
 
 
Cerita menyentuh lainnya sebenarnya datang dari founder Gebbrag sendiri yang sudah mengalami banyak kerugian finansial sebelum akhirnya mendirikan Gebbrag. Dirinya mengaku dulu banyak berhutang dengan alasan menambah modal.
 
Bukannya berkurang, hutang Sigit terus bertambah karena banyaknya musibah yabg datang silih berganti. Seperti ditipu oknum polisi yang pesan produknya hingga puluhan juta, namun Sigit justru diancam akan ditembak saat menagihnya membayar. Ada juga custumernya yang kecelakaan setelah mengambil produknya dan belum sempat membayar. Sehingga keadaan Sigit menjadi semakin terjepit. 
 
Puncaknya adalah ibu Sigit yang meninggal pada 2014. Ibunya juga menjadi partner Sigit dalam membuka usahanya selama ini. Sejak itu, dirinya mengaku untuk meninggalkan riba dan berhijrah. Kerja keras dan tekadnya berhasil, pada Februari 2016, ia berhasil melunasi semua hutangnya, memulai kembali bisnis dengan berdagang dawet dan mendirikan komunitas Gebbrag. 
 
Sampai sekarang, Gebbrag sudah mengumpulkan dana untuk melunasi hutang para dhuafa yang terjerat riba. Sudah 10 duafa terbantu dan dilunaskan utangnya.
 
Bagaimana? Tertarik untuk mengikuti dakwah Anti Riba Gebbrag? Atau ikut berdonasi melalui komunitas Gebbrag? Sigit Setiyawan bisa dihubungi di nomor 081326331263