November, Inflasi di Kudus Sebesar 0,29 Persen

 04-12-2018 15:43 WIB by Admin  158x    News

KUDUS- Pada November 2018, Kabupaten Kudus masih mengalami inflasi sebesar 0,29 persen, sama seperti bulan sebelumnya. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BPS Kabupaten Kudus, Ir. Rahmadi Agus Santosa, M.Si dalam press release di aula BPS Kudus pada selasa (4/12).


Rahmadi menjelaskan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran bahan makanan 0,56 persen; kelompok sandang 0,35 persen; kelompok tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,30 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,25 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,15 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,14 persen.


Kemudian, komoditas yang memberi sumbangan terbesar terhadap inflasi dan deflasi, Dia mengatakan, “Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar inflasi adalah beras, bawang merah, bensin, cabai rawit dan semen, sementara komoditas penyumbang terbesar deflasi adalah kangkung, bayam, kacang panjang, cabai merah dan ikan bandeng.”


Di antara enam kota SBH di Jawa Tengah, Kudus menempati urutan ketiga inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Purwokerto sebesar 0,32 persen dengan IHK sebesar 131,18 persen diikuti oleh Kota Cilacap, Kota Kudus, Kota Tegal, Kota Surakarta, dan Kota Semarang masing-masing sebesar 0,31; 0,29; 0,26; 0,22; dan 0,21 dengan IHK masing-masing sebesar 137,11; 140,25; 130,74; 128,57; dan 132,22.


Pada kesempatan tersebut, dirinya juga menyampaikan tentang rencana survei biaya hidup untuk membentuk tahun dasar 2018 sebagai perhitungan inflasi. Saat ini perhitungan inflasi masih menggunakan tahun dasar 2012 dan idealnya dilakukan pembaruan tiap 5 tahun sekali. “Saat ini masih memakai tahun dasar 2012, kita sedang melakukan survey biaya hidup untuk tahun dasar 2018 yang akan dipakai mulai 2020,” ungkapnya.