Indonesia Kaya, Tangkal Budaya Asing dengan Keakraban dan Guyub

 11-02-2019 08:08 WIB by Admin  51x    News

KUDUS (9/2) - Keberagaman yang dimiliki oleh negara Indonesia merupakan ciri khas yang harus dirawat dan dilestarikan. Jika tidak, maka potensi keragamanan baik dalam hal budaya, adat, agama dan unsur lainnya akan tergerus oleh budaya yang tak sesuai dengan budaya Indonesia. Hal tersebut menjadi topik utama dalam Bincang Budaya bertemakan Mutiara Nusantara Merawat Budaya Merayakan Persatuan yang digelar di Klenteng Hok Hien Bio Kudus. Acara yang diinisiasi oleh PT. Nojorono tersebut mengundang pakar Antropologi dan Batik Universitas Indonesia, Notty J. Mahdi.

Presiden Direktur PT. Nojorono Stefanus J.J. Batihalim berujar bahwa tema Mutiara Nusantara merupakan manifestasi negara Indonesia yang memiliki kekayakan budaya, alam, seni dan keberagaman lainnya. Tak hanya itu, pihaknya mengingatkan bahwa negara Indonesia mampu menjadi negara terpandang apabila mengutamakan keharmonisan dalam bernegara. "Mutiara ini harus kita rawat dan jaga. Indonesia negara yang punya segudang kearifan lokal yang harmonis dan bermartabat, sehingga dunia luar akan tahu kekayaan kita jika kita selalu melestarikannya," ungkapnya.

Sebagai contoh kearifan lokal yang ada di Kudus, Stefanus menjelaskan akulturasi budaya yang terjadi pada masa Syekh Ja'far Shodiq atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Pada masa itu, Sunan Kudus melarang menyembelih hewan sapi. Bagi umat Hindu, sapi merupakan hewan suci sehingga Sunan Kudus tak ingin melukai hati umat Hindu dengan melarang umat Islam di Kudus untuk menyembelih sapi. Hingga sekarang, wejangan Sunan Kudus tersebut terus dijaga dan dipelihara dengan baik.

"Mengingat masa lalu, Sunan Kudus melarang menyembelih sapi. Ini adalah bentuk toleransi yang sebenarnya sudah dikenal sejak jaman dahulu. Kita secara budaya sudah kaya sejak dulu, tinggal merawatnya," imbuhnya.

Sementara itu, bupati Kudus H.M. Tamzil menekankan di era yang sudah serba maju seperti sekarang, budaya Indonesia khususnya budaya Kudus harus tidak mudah tergerus oleh budaya asing. Bagi Tamzil, untuk menangkal budaya asing yang belum tentu cocok dengan budaya Indonesia diperlukan semangat keakraban dan guyub di pergaulan masyarakat. "Modernisasi dan globalisasi semakin kuat, kita harus bersyukur hidup di Indonesia, khususnya di Kudus. Keakraban dan guyub dalam masyarakat merupakan obat atau penangkal budaya asing," jelasnya.

Merawat masa lalu, H.M. Tamzil menceritakan sejarah akulturasi budaya yang terjadi di Kudus. Menurutnya, ukiran pada gebyok di Kudus dipengaruhi oleh kedatangan Kiai Telingsing, seorang Tionghoa beragama Islam. Tak hanya itu, pihaknya menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Sunan Kudus ketika melarang menyembelih sapi adalah bentuk toleransi. "Kalau dari ukir gebyok, ada pengaruh desainnya dari Kiai Telingsing. Soal akulturasi makanan, saya menyebutnya Soto Toleransi karena tidak daging sapi, tapi daging kerbau," kelakarnya.

Disisi lain, Pakar Antrologi dan Batik Universitas Indonesia Notty J. Mahdi menyoroti keunikan budaya yang dimiliki oleh Kudus. Menurutnya, nama Kudus pada masa lalu adalah Tajug. Kudus merupakan salah satu pusat jalur pelabuhan yang digunakan untuk transit pedagang melalui Kali Gelis. Tak hanya itu, pihaknya juga menjelaskan tentang soto berasal dari kata caudo yang berarti air kuah untuk sembahyang orang Tionghoa. Akibat akulturasi, dicampurkan rempah sehingga rasanya seperti soto sekarang.

"Kudus dulu namanya Tajug. Tak hanya itu, Kudus juga dulu sebagai pusat perdagangan melalui Kali Gelis. Para pedagang memanfaatkan itu untuk transit dan transaksi jual-beli. Untuk arsitektur, Kudus penyuplai batu bata terbaik waktu itu. Untuk makanan, saya teliti bahwa soto berasa dari caudo yang berarti air kuah untuk sembahyang," jelasnya.