Festival Bulusan Bangkitkan Potensi UMKM Desa

 12-06-2019 20:45 WIB by Admin  37x    News

KUDUS - Bulusan merupakan festival budaya yang rutin diselenggarakan setiap tanggal 7 Syawal atau seminggu usai lebaran di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo. Jika dikembangkan dengan baik, bukan tidak mungkin hal itu dapat membangkitkan potensi desa wisata melalui UMKM seperti yang diungkapkan Bupati Kudus H.M. Tamzil ketika membuka Gebyar Festival Budaya Bulusan 2019, Rabu (12/6). Dirinya hadir didampingi Wakil Bupati H.M. Hartopo beserta unsur forkopinda. Terselenggaranya festival tersebut menjadi simbol masih kukuhnya sikap gotong royong dan rukun antar warga desa. Hampir seluruh warga Desa Hadipolo khususnya Dukuh Sumber ikut terlibat dalam mempersiapkan festival tersebut. Hal itu dikarenakan semangat tinggi warga desa untuk menjaga tradisi dan budaya lokal setempat secara turun-temurun. “Sampai saat ini masih dilestarikan, tradisi ngirim. Kalau punya gawe (acara) mengirim makan bulus dengan nasi dan telur rebus,” ujar Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan. Spirit gotong-royong tersebut mendapat apresiasi dari H.M. Tamzil, menurutnya usai lebaran adalah momen tepat untuk saling menjaga kesatuan dan persatuan dalam masyarakat. Sebagai kepala daerah, dirinya juga menyampaikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri kepada masyarakat. “Dalam suasana Idul Fitri ini saya menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin,” ucapnya. Dirinya juga berharap doa dari masyarakat agar Kabupaten Kudus mampu menjadi kota yang religius, modern, cerdas dan sejahtera. Bulusan sudah menjadi tradisi turun-temurun dan telah lama hadir sebagai ikon Desa Hadipolo dalam sektor pariwisata. Tiap tahunnya, festival tersebut menyedot ribuan warga yang berdatangan untuk menyaksikan pertunjukan seni budaya diantaranya wayang kulit. Sebagian warga juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjajakan berbagai barang dagangan. Apabila festival tersebut dapat dikelola dengan baik, H.M. Tamzil optimis warga desa mampu memunculkan produk-produk khas Hadipolo dengan bulus sebagai ikonnya. “Kegiatan ini patut kita rawat dan mungkin kita bisa lebih kembangkan lagi, bagaimana kegiatan festival gebyar bulusan ini bisa dikenal lagi oleh masyarakat luas, yang saat ini hanya dikenal oleh masyarakat sekitar Kudus. Bagaimana kedepan bisa menarik lebih banyak lagi orang datang kesini sambil bodo kupat (Lebaran Ketupat). Ikon bulus ini kan bagus untuk dijadikan survernir seperti gantungan kunci, kaos, yang produknya dari anak-anak disini. Kita siap memfasilitasi untuk UMKM sehingga festival yang datang kita bisa buat survernir,” ujarnya. Menjaga tradisi yang luhur dan kearifan lokal merupakan salah satu kunci terciptanya lingkungan yang aman dan damai. Kekompakan dan spirit menjaga tradisi yang ditampilkan warga Desa Hadipolo diharapkan mampu menjadi contoh warga desa lain di Kabupaten Kudus. “Festival bulusan juga ada wayangan dan kirab, tak lepas dari hasil kekompakan warga desa. Kalau desa yang lain bisa seperti ini, pasti semua aman dan tentram,” pungkas H.M. Tamzil.