Tradisi Dandangan; Sunan Kudus Ajarkan Persaudaraan dan Tolerasi

 06-06-2016 14:48 WIB by Admin  1561x    News

 
KUDUSNEWS.COM, Kudus - Panasnya cuaca tidak menghalangi semangat ribuan pasang mata masyarakat Kudus (dan sekitarnya) untuk menyaksikan visualisasi Dandangan. Meski Kudus beberapa jam sebelumnya diguyur hujan lebat, namun cuaca cerah mengiringi acara yang digelar di Simpang Tujuh, Kudus tersebut, Minggu (5/6).
 
Tradisi tahunan ini mengingatkan kepada seluruh umat Muslim akan datangnya bulan Puasa Ramadan. Ya, tradisi dandangan yang telah berlangsung selama 10 hari di seputar Menara Kudus itu tervisualisasikan dalam sebuah kirab budaya untuk melestarikan peninggalan Kangjeng Sunan Kudus itu.
 
Kreativitas masyarakat dan pelajar sebagai peserta kirab pun muncul. Dengan berbagai tema yang diusung, mereka memberikan tontonan apik kepada Bupati Kudus H. Musthofa bersama seluruh undangan dan seluruh masyarakat yang hadir. Mulai dari tema budaya Jawa hingga Cina berpadu di acara yang digelar sekitar dua jam itu.
 
Dalam sambutannya, Bupati Kudus menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pedagang termasuk forum usaha mikro kecil menengah (UMKM) Jateng untuk berpartisipasi di Dandangan. Doanya terhadap para pelaku UMKM dan pedagang bisa mendapatkan berkah dalam berjualan menjelang puasa ini.
 
”Dandangan ini tradisi/budaya. Maka peninggalan Sunan Kudus ini sudah seharusnya untuk terus dilestarikan,” kata Bupati.
 
Potensi Kudus sangat luar biasa. Masyarakat memiliki kesempatan untuk meng-explore berbagai kemampuannya. Dalam bidang apapun, mereka bisa berkreasi dengan maksimal. Sajian sore itu menjadi bukti kreativitas seni yang disajikan dalam sebuah kirab.
 
Ada sebuah nilai yang bisa diambil dari sajian tersebut. Betapa Sunan Kudus menghormati sesama dengan penuh rasa persaudaraan dan toleransi. Karena di Kudus merupakan perpaduan tiga budaya. Yaitu Jawa, Tiongkok, dan Arab.
 
”Tauladan dan contoh mengenai toleransi inilah yang kita harus lestarikan dengan menghormati sesama,” tambahnya.
 
Bupati menambahkan, bahwa dalam menyambut puasa yang jatuh pada Senin (6/6) ini, ada nilai yang harus digali. Yaitu tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi untuk terus introspeksi terhadap perbaikan diri dari tahun ke tahun.
 
Puasa telah mengajarkan tawadu dengan penuh dedikasi. Baik terhadap sesama terutama sesepuh maupun terhadap bangsa dan negara. Maka Ramadan benar-benar akan bermakna bagi manusia dalam membangun daerah dan bangsanya.
 
”Dan dengan ditabuhnya bedug ini, menandai dan mengingatkan kita akan datangnya bulan puasa. Selamat berpuasa dan mari kita berbuat yang terbaik,” pungkasnya.(rg)