Film Dokumenter sebagai Sarana Marketing Kreatif

 08-12-2014 03:29 WIB by Admin  2799x    Pariwisata

KUDUSNEWS.COM, Kudus - Banyak cara yang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan, memperkenalkan, atau menjual sebuah produk. Termasuk untuk memberikan informasi secara luas tentang potensi sebuah daerah dengan segala macam ragam dan budaya masyarakatnya. Salah satunya adalah melalui media film dokumenter. Di Kudus, lomba pembuatan film dokumenter yang untuk kali pertama digelar. Malam penganugerahan pemenang dilangsungkan di Majesty Ball Room Griptha Hotel, Kudus, Jumat (5/12).

Lomba yang bertujuan untuk menggali potensi masyarakat Kudus dan menyajikannya secara apik dalam media audio visual ini terbagi menjadi empat kriteria. Di antaranya aspek kehidupan, aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek budaya. Sebanyak 60 peserta yang mengirimkan karyanya dari total pendaftar sebanyak 82 peserta. Ini merupakan jumlah yang cukup banyak untuk ajang setingkat kabupaten. Bahkan panitia menyediakan hadiah total sebesar Rp. 250 juta.

Bupati Kudus H. Musthofa memberikan apresiasi positif terhadap lomba ini. Dirinya secara pribadi menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan panitia penyelenggara yang mengadakan ajang ini secara baik. Potensi masyarakat Kudus akan lebih dikenal dan terangkat dengan kompetisi ini. Apalagi untuk menghadapi masyarakat ekonomi asean (MEA), Kudus harus siap untuk menghadapinya.

”Festival Film Dokumenter ini akan mendukung potensi ekonomi masyarakat dengan sebuah marketing kreatif,” kata Bupati di hadapan seluruh peserta, panitia, serta masyarakat dan jajaran pejabat di Kudus yang hadir malam itu.

Yang disampaikan bupati sangat pas dengan berbagai upaya yang telah dilakukan Pemkab Kudus. Pameran yang baru saja digelar dengan tajuk Kudus Expo telah memperkenalkan secara luas potensi masyarakat Kudus. Baginya itu akan lebih komplit jika tersaji dalam sebuah film dokumenter selain memperkenalkan Kudus melalui media massa.

Selain itu, bupati juga mengharapkan kreativitas masyarakat Kudus (dan sekitarnya) akan lebih terpacu untuk menyajikan sebuah dokumentasi film dengan lebih bagus. Banyaknya peserta (bahkan banyak yang dari luar Kudus) membuktikan bahwa Kudus ini kaya dengan ragam potensinya dan menarik untuk diangkat dan disajikan.

”Harapannya tentunya ketika melihat film ini, orang akan tahu di Kudus ada apa saja. Dan lebih jauh, untuk mengangkat Kudus untuk Indonesia menuju dunia,” harapnya.

Lebih lanjut bupati mengatakan lomba semacam ini akan terus digelar di tahun-tahun mendatang. Karena motivasi, semangat, dan kreativitas masyarakat akan lebih tergali secara kompetitif. Dan muara akhirnya semuanya untuk masyarakat. Karena pemkab dan DPRD telah mendukung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui fim dokumenter.

Penyihir Bambu Tampil sebagai Juara

Karya Farizal Pamuji asal Wonosobo dengan judul ”Penyihir Bambu” mampu tampil sebagai yang terbaik dalam ajang Festival Film Dokumenter Kudus 2014 ini. Dirinya mengangkat potensi usaha mikro, kecil, dan menengah di Kudus yang digeluti Ngatmin. Seorang pria asal Desa Japan, Dawe dengan kreativitasnya mampu membuat biola dengan bahan yang belum pernah ada sebelumnya, bambu.

Di dalam film itu disajikan sepak terjang Ngatmin sebelum akhirnya mampu menyulap bambu menjadi biola. Berbekal kemampuannya sebagai tukang kayu di Jepara, dirinya mencoba tantangan baru membuat biola. Setelah berhasil membuat biola dengan bahan kayu, dirinya tertantang untuk membuat yang berbeda. Dan dipilihlah bambu sebagai bahan bakunya, karena mudah didapatkan.

Kesuksesannya tak lepas dari dukungan Pemkab Kudus melalui Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM. Dengan pembinaan yang diberikan Pemkab, Ngatmin lebih terarah dan tergali potensinya. Bupati Kudus pun memberikan apresiasi akan kreativitas Ngatmin ini. Dan dirinya mengharapkan Ngatmin ini mampu memberikan inspirasi bagi pelaku UMKM di Kudus yang lain.

Sementara itu, dewan juri yang terdiri dari IGP Wiranegara, Bambang Hengky, dan Haryanto Corach mengaku kesulitan untuk memilih yang terbaik dari semua karya yang masuk. Semuanya bagus, meski ada beberapa yang secara teknis kurang maksimal dalam tata suara. Namun demikian mereka dengan seksama memberikan penilaian terhadap semua film yang ada. Akhirnya ’penyihir bambu’ inilah yang terbaik dari semua yang ada.(cis/red)